Rabu, 21 Oktober 2015

Assisten Rumah Tangga Penjaga Anak

Pada tanggal 13 Oktober 2015, tepatnya pada hari Selasa saya berkenalan dengan seorang ibu-ibu di stasiun kereta api Pasar Senen. Perkenalan kamipun hanya karena saya membantu ibu tersebut membawakan tasnya, karena kami memiliki arah tujuan yang sama saat itu. Saya ingin mencetak tiket untuk hari esok pergi, sedangkan ibu tersebut  ingin mencetak tiket untuk dia pergi pada hari tersebut. Setelah cetak tiket, ibu tersebut mengajak saya untuk ngbrol-ngbrol sejenak, sekalian menemani ibu tersebut menunggu kereta api tujuannya datang. Singkat cerita perkenalan kami. Selama hampir 1 jam lebih saya menemani ibu tersebut dan banyak obrolan yang kami lewati bersama, hanya saja ada salah satu cerita yang mampu membuat saya terkejut. Saya kira hal tersebut hanya bisa saya dengar dari acara berita tv atau sinetron-sinetron yang sering diputar oleh beberapa stasiun tv. Mungkin dari cerita ini dapat menjadi pembelajaran tersendiri bagi kita, khususnya bagi pasangan suami istri yang notabenenya berkerja dan menitipkan anaknya kepada asisten rumah tangga.

Pada suatu hari, ibu itu menyarankan kesalah satu anaknya yang baru menikah atau mungkin akan menikah (maaf saya lupa) untuk berkunjung kerumah anaknya yang sudah menikah dan memiliki anak kecil yang kira-kira usia 10 bulanan lebih.

Ibu " Saya suruh anak saya yang perempuan untuk kerumah kakak iparnya yang baru punya anak, biar sekalian dia belajar ngurus anak sama kakak iparnya. Anak perempuan saya pun akhirnya pergi kerumah kakak iparnya. Setlah itu berangkatlah anak saya kerumah kakak iparnya ya di **** "

Sesampai disana, dijemput sama kakaknya dan kakak iparnya, dan pada saat diperjalanan menuju kerumah kakaknya mereka terkena lampu merah. Saat lampu merah biasanya para pengemisi sudah siap untuk melakukan aksinya. Baju yang terlihat kotor, dan kumuh saatakn tek pernah diganti, beralasan sendal jepit yang juga terlihat kumuh para pengemis itu menghampir setiap mobil yang berhenti. Betapa kagetnya pasangan suami istri (yang merupakan kakak dan kakak iparnya) tersebut saat melihat seorang anak kecil  yang berada digendongan seorang ibu-ibu pengemis yang saat itu sedang mengemis. Akhirnya pasangan suami istri tersebut langsung turun dari mobil dan merebut anak tersebut dari gendongan ibu-ibu pengemis secara paksa. Sesampai dirumah, mereka melihat asisten rumah tangga tersebut sedang duduk manis sambil menoton tv layaknya tidak memiliki tanggung jawab apa-apa, dan pada hari itu juga asisten tersebut diberhentikan dari pekerjaannya. Selama sebulan pasangan suami istri tersebut menitipkan anaknya, dan sempat menyadari anaknya mengalami perubahan fisik, seperti badannya menjadi kurus dan kulitnya menjadi hitam. Namun tidak mencari tau apa yang sebenarnya terjadi, yang pada akhirnya mereka baru mengetahui bahwa anaknya di jadikan anak sewaan oleh asisten penjaga anaknya, dan hal ini menjadikan sebagai pembelajaran tersendiri  bagi keluarga tersebut.

Dari cerita tersebut, yang merupakan salah satu pengalaman seseorang, dapat dijadikan sebagai suatu pengalaman yang cukup mengejutkan buat saya sendiri. Sampai saya pun berfikir bagaimana jika suatu saat nanti saya mengalami hal serupa. Apalagi pada zaman saat ini, dimana banyak para ibu yang memutuskan untuk membantu suami (mencari nafkah) atau menjadi wanita karir, sehingga salah satu peran ibu untuk mengurus anak digantikan oleh baby sitter atau perawat. Para ibu tersebut mempercayaikan penuh anaknya kepada baby sitter, dan tidak mengetahui bagaimana perkembangan anaknya sendiri, maupun yang dialami anaknya selama orang tuanya sedang sibuk mengurus pekerjaannya.

Jumat, 09 Oktober 2015

Sistem Informasi Psikologi


Sistem

Definisi Sistem menurut para ahli (Hutahaean, 2014);
Menurut Davis, G.B, sistem secara fisik adalah kumpulan dari elemen-elemen yang beroperasi bersama-sama untuk menyelesaikan suatu sasaran. Menurut Dr. Ir. Harijono Djojodihardjo, sistem adalah sekumpulan objek yang mencakup hubungan fungsional antara tiap-tiap objek dan hubungan antara ciri tiap objek, dan yang secara keseluruhan merupakan suatu kesatuan secara fungsional. Menurut Fat,  sistem adalah suatu himpunan suatu “benda” nyata atau abstrak (a set of thing) yang terdiri dari bagian atau komponen yang saling berkaitan, berhubungan, berketergantungan, saling mendukung, yang secara keseluruhan bersat dalam satu kesatuan (Unity) untuk mencapai tujuan tertentu secara efisien dan efektif.  Menurut Indrajit, sistem diartikan kumpulan dari komponen-komponen yang dimiliki unsur keterkaitan antara satu dengan lainnya.
Menurut Jerry FutzGerald, sistem adalah suatu jaringan kerja dari prosedur yang saling berhubungan, berkumpul bersama untuk melakukan suatu kegiatan atau unuk menyelesaikan suatu sasaran yang tertentu. Menurut Jogianto, sistem adalah kumpulan dari elemen yang berinteraksi untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Sistem ini menggambarkan suatu kejadian-kejadian dan kesatuan yang nyata adalah suatu objek nyata, seperti tempat, benda, dan orang-orang yang betul ada dan terjadi. Menurut Lani Sidharta, sistem adalah himpunan dari bagian yang saling berhubungan yang secara bersama mencapai tujuan yang sama. Menurut Murdick, R.G, sistem adalah perangkat elemen yang membentuk kumpulan atau prosedur-prosedur atau bagan-bagan pengolahan yang mencari suatu tujuan.

Informasi
Definisi Informasi menurut para ahli;
Menurut Hutahaean (2014), informasi adalah suatu data yang diolah menjadi bentuk yang lebih berguna dan lebih berarti bagi penerimanya. Menurut Gordon B. Davis, informasi adalah data yang telah diolah menjadi suatu bentuk yang penting bagi s penerima dan mempunyai nilai nyata atau yang dapat dirasakan dalam keputusan-keputusan yang sekara ng atau keputusan yang akan datang (Hutahaean, J. 2014). Menurut Irwansyah dan Moniaga (2014) informasi adalah sekumpulan data atau fakta yang diorganisir atau diolah dengan cara tertentu sehingga mempunyai arti bagi penerimanya.


Psikologi
Menurut The American Heritage Dictionary (Djohan, 2009), psikologi didefinisikan sebagai “karakteristik emosional dan perilaku individu, kelompok, atau aktivitas”, kemudian menjadi lebih luas dari hanya kajian perilaku manusia.
Menurut Plotnik, psikologi merupakan suatu studi yang sistemasik dan ilmiah tentang perilaku dan proses mental (Basuki, 2008)
Menurut Basuki (2008), psikologi adalah ilmu pengetahuan (ilmiah) yang mempelajari perilaku, sebagai manifestasi diri kesadaran mental, aktivitas motorik, kognitif dan emosional.

Setelah membahas mengenai pengertian sistema, informasi, dan psikologi menurut para ahli. Dapat disimpulkan bahwa sistem informasi psikologi adalah ilmu yang membahas mengenai suatu sistem dari prosedur yang saling berhubungan berdasarkan sebuah kumpulan data mengenai perilaku individu hingga menjadi sebuah informasi yang sesuai dengan tujuan yang telah ditentukan.
Daftar Pustaka :
 
Basuki, H. 2018.Psikologi  Umum. Jakarta: Gunadarma
Hutahaean, J. 2014. Konsep Sistem Informasi. Yogyakarta: Deepublish
Irwansyah, E. dan Moniaga, J., V. 2014. Pengantar Teknologi Informasi. Yogyakarta: Deepublish

 

 

Sabtu, 04 Juli 2015

Cara membuat Double Slider

Asslamualaikum...
Hallo guy's jumpa lagi dalam blog Cisppyridyy..
Beberapa bulan kemarin aku habis share scrap frame bukan. Nah sekarang aku berhasil membuat double slider card yang berawal dari melihat scrapbook di youtube.

Bahan apa saja yang di butuhkan ?...
Bahan yang di butuhkan masih sama dengan bahan2 yang di butuhkan untuk membuat scrap frame.
* Kertas hvs warna-warni ( aku disini pakai kertas origami hanya saja harus di lapiskan lagi dengan kertas seperti karton yang sedikit tebal )
* Gunting dan cutter 
* Penggaris
* Pensil 
* Plastik bening ( kalian bisa juga menggunakan bungkusan plastik sisa snack atau tidak plastik yang ada di botol air minum kemasan )


Mari Buat ....
Okay, pertama-tama siapkan 4 potongan kertas. 2 potong kertas berukuran 7,5 x8 dan 2 potong kertas 8x9 ( untuk ukuran sebebas kalian saja mau di buat berapa, hanya saja harus ada 2 potongan yang memiliki ukuran yang sama )



Ambil salah satu potongan kertas yang di gunakan untuk sebagai alas, disini saya menggunakan warna merah untuk alasnya. Beri jarak 0,5 cm pada sisi kanan dan Kiri. Setelah itu bikin garis 4cm, potong sesuai dengan garis yang telah ditentukan
Lihat contoh di bawah ini :


Setelah itu siapkan plastik bening dengan ukuran 4x16 cm. Sisipkan plastik tadi pada potongan kertas yang menjadi alas pada bagian yang telah di potong. Rekatkan ujuang dengan ujung plastik
Lihat contoh :



Setelah alasannya selesai, sekarang kita ke potongan kertas yang berwarna kuning tempelkan sebuah photo di masing2 kertas tersebut atau kalian mau menuliskan kata2 pada potongan tersebut.

Lihat contoh :

Okay selanjutnya berikan double tape di atas plastik bening yang bagian bawah di beri double tape disisi kanan dan bagian atas diberikan double tape di sebelah kiri sekitar 4 cm ( ukuran sesuai dengan panjang plastik bening tadi ) rekatkan dengan potongan kertas berwarna kuning.

Lihat contoh :


Setelah itu gunakan double tape yang memiliki bantalan, rekatkan pada ujung atas dan bawah pada kertas berwarna merah. Setelah itu rekatkan dengan potongan kertas berwarna merah yang telah disiapkan dan rekatkan. Untuk bagian depannya kalian bisa kreasikan sendiri atau tempelkan apa aaja sesuai dengan yang kalian inginkan.

Lihat contoh :

Selesai..
Dan ini hasilnya 


Mudah bukan, jika kurang jelas bisa tanya2 lagi kesini atau kalian bisa check di youtube. Disana lebih banyak tutorial mengenai double slide.

Kamis, 07 Mei 2015

TERAPI REALITAS

Glaser memperkenalkan terapi realitas sebagai sala satu pendekatan terapi untuk mengatasi berbagai bentuk ganguan psikologi yang di alami individu.  Sebagai seorang psikiater, ia banyak menemukan kenyataan bahwa berbagai gangguan psikologi yang dialami oleh pasien, yang dirawat di rumah sakit, dilandasi oleh upaya pasien melarikan diri dari tanggung jawab hidupnya. Landasan utama terapi realitas adalah memenjarakan pasien untuk bertanggung jawab terhadap hal-hal yang dilakukannya, dan buka membenamkan diri dalam perasaan-perasaan yang dialaminya. Glasse mengemukkan bahwa pada

Konsep yang dikemukakan Glasser dalam melakukan terapi realistas, yaitu :
  1. Setiap orang harus dibawa kepada sesuatu pehaman bahwa dirinya turut bertanggung jawab atas penderitaannya. Ia tidak boleh membebankan tanggung jawab kepada orang lain, melainkan dirinyalah yang bertanggung jawab.
  2. Individu harus menyadaribahwa sejarah hidup tidak dapat diputar ulang. Akses terhadap pengalaman hidup di masa lampau sangat terbatas, sehingga perubahan yang harus dilakukan juga demikian terbatas. Karenanya, seseorang hendaknya belajar mengubah dirinya sendiri sejak saat kini untuk kehidupan yang lebih baik di masa depan.
  3. Pasien harus belajar berinteraksi dengan orang lain sesuai dengan pola hubungan interaktifnya, bukan atas landasan transfetence ( pengalihan hubungan emosional dengan figur tertentu ke figur tertentu lainnya yang memiliki kemiripan ). Setiap hubungan interpersonal adalah unik, dan individu perlu belajar membina hubungan unik sesuai dengan keunikan hubungan interpersonalnya.
  4. Alam ketidaksadaran tidak bisa dijadikan alasan bagi individu untuk terganggu. Ia harus belajar tanggung jawab atas hal-hal yang diperbuatnya.
  5. Harus ada pengakuan besar salah; karenanya harus ada aturan sosial yang dapat mengendalikan perilaku individu. 
  6. Pasien harus belajar bertingkah laku tertentu sebagai perilaku yang layak yang harus ditampilkan dalam kondisi tertentu.
Teknik-teknik terapi realitas menurut Glasser dilakukan dengan langkah-langkah sebegai berikut :

1. Keterlibatan
Bertumpu pada pengalamannya sebagai psikiater di Veterans Administration Psychiatric Hospital, West Los Angeles, ia mengamati bahwa para petugas yang berbicara dengan pasien dan memperlakukan pasien dengan bersahabt atau sebagai teman dan melibatkan perasaannya terhadap pasien, akan memberikan hasil yang sangat memuaskan dan sebagai kebutuhan dasar. Terapis harus dapat melibatkan diri dengan pasien yang akan dibantunya, karena itu harus memperlihatkan sikap hangat, bersifat pribadi dan ramah. 

2. Perilaku Sekarang
Sebagai kelanjutan dari sikap hangat dan kesediaan melibatkan diri dari terapis dengan pasiennya, pasien akan merasa dibantu untuk menyadari perilakunya sendiri sekarang. Mengetahui perilaku sekarang dianggap penting . Orang sering menghindari dari perilakunya sekarang dengan menekankan bagaimana dia merasakan daripada bagaimana ia berbuat.  Pandangan pada terapi realitas terhadap kehidupan perasaan seseorang sebagai sesuatu yang cukup penting, namun yang lebih penting ialah apa yang dilakukan sekarang. Terapi akan “mengeluarkan” perilaku tersebut untuk “diperlihatkan” kepada pasiennya agar pasien tidak melakukan keterlibatan dirinya terhadp masalahnya, namun keterlibatan dengan orang lain atau pihak lain di luar dirinya untuk melakukan sesuatu.

3. Menerima Diri Sendiri
Pasien harus bisa melihat perilakunya sendiri secara kritis dan menilainya apakah pilihannya memang yang terbaik. Dimana terapis akan menanyakan apakah pennilainnya terhadap perilakunya merupakan baik untuk dirinya sendiri maupun untuk orang disekitarnya serta lingkungan sosialnya. Terapi tidak akan menerangkan apakah yang dilakukan pasien itu salah atau benar dan terapis hanya sebatas embimbing pasien untuk menilai dan menentukan perilakunya sendiri.

4. Merencanakan Tindakan yang Bertanggung Jawab
setelah pasein melakukan penilaian pasien dibantun dalam menyusun rencana, kenyataan pengaruh pengalaman dan pengalaman hidup terapis cukup besar dan banyak mempengaruhi objektifitasnya. Rencana tindakan sebaiknya haru realistik sehingga tidak tidak sulit untuk dicapai. Rencana yang disusun pun tidak terlalu kaku dan kalau bisa disusun kembali. Namun dalam melakukan tindakan, pasien tidak dibebaskan begitu saja untuk tidak mengikuti rencana yang telah dibuat.

5. Perjanjian
Rencana tindakan yang telah disusun harus dijalani dan dilakukan. Terapi memberikan dorongan lebih besar kepada pasien untuk memenuhi rencana dan meminta pasien untuk berjanji dengan terapis bahwa dia akan melakukannya. 

6. Tidak Menerima Alasan
Jika seseorang tidak memnuhi perjanjiannya, penilaian, penyusunan rencana perlu diperiksa ulang. Jika perjanjian dan keterlibatan pasien untuk melakukan sesuatu yang sesuai dengan rencana, maka terapis masih mendorongnya 

7. Tidak adanya hukuman 
Tidak memberikan hukuman atau tidak menerima alasan sama pentingnya dalam terapis realitas. Karena menurut Glasser dengan memberikan hukuman akan mengurangi keterlibatan seseorang dan menyebabkan ke gagalan untuk mengidentifikasikan kegagalan secara lebih rinci. 

Sumber :
  • Gunarsa, S., D. 2007. Konseling dan Psikoterapi. Jakarta : Gunung Mulias
  • Satiadarma, M., P. 2002. Pura-pura Sakit untuk Mencari Simpati ( Sindrom Munchausen ), Sebuah kajian Psikologis. Jakart:Populer Obor
  •  



Sabtu, 18 April 2015

LOGOTERAPI

Logoterapi berasal dari kata YUNANI logos yang mengandung dwiarti. Pertama, logos berarti : "spirit"  yaitu suatu dimensi terdalam dari seorang ke manusia dan arti ini lebih ke antropologis dari pada teologis. Kedua adalah "meaing" yaitu nilai kehidupan sebagai seorang manusia. Singkatnya, logoterapi adalah sebuah teori yang berorientasi untuk menemukan arti, suatu arti dalam dan bagi eksistensi manusia. Disini yang penting adalah menerima tanggung jawab dan berusaha menemukan arti atau nilai dibalik kehidupan.

Menurut kamus lengkap Psikologi ( Chaplin, 1989 ) Logoterapi : satu bentuk psikoterapi eksistensial yang didasarkan atas analisa arti dari eksistensi seseorang.

Terdapat 3 konsep fundamental yang perlu diketahui dalam hubungan dengan logoterapi, antara lain :

1. Freedom of Will ( Bebas dari kemamuan ) 
Arti kata kebebasan yang dimaksud adalah suatu kebebasan untuk tetap berdiri/tegak apapun kondisi yang dialami manusia. Disini manusia bebas untuk menentukan sikapnya menghadapi keadaan disekitarnya, bebas membuat rencana diluar kecenderungan somatik dan komponen-komponen psikisnya. Bebas dari kemauan tidak berarti bebas dari kondisi bologis, fisik, sosiaologis,dan psikologis. Tetapi bebas untuk mengambil sikap bukan hanya menghadapi dunia, melainkan diri sendiri.
2. Will-to-meaning 
Kemauan untuk menemukan arti kehidupan. Suatu dorongan kemuan dasar yang berjuang untuk mencapai arti hidup yang lebih tinggi untuk eksis didunia. Ia merupakan suatu dorongan yang mengendalikan manusia untuk menemukan arti dalam kehidupan. Will-to-meing muncul dari keinginan pembawaan dasar manusi untuk mengaktulisasikan sebanyak mungkin nilai hidup dalan diri manusia.
3. The meaning of life 
Arti hidup yang dimaksudkan disini adalah arti hidup yang bukan untuk dipertanyakan, tetapi untuk direspon, karena kita semua bertanggung jawab untuk suatu hidup. Respon yang diberikan bukan dalam bentuk kata, tapi dalam bentuk tindakan dengan melakukannya.

Tujuan Logoterapi 
  • Memahami adanya potensi dan sumber daya rohani secara universal ada pada setiap orang terlepas dari ras, keyakinan dan agama yang dianutnya
  • Menyadari sumber-sumberdan potensi itu sering ditekan, terhambat dan diabaikan bahkan terlupakan
  • Memaanfaatkan daya-daya tersebut untuk bangkitkan kembali dari penderitaan untuk mampu tegak kokoh menghadapi berbagai kendala dan secara sadar mengembakna  diri untuk menghasilkan kualitas hidup bermakna.
Teknik-teknik Logoterapi :
Menurut Semiun ( 2006 ) teknik logotherapy antara lain :

a. Intensi Paradoksikal :
Merupakan teknik dimana klien diajak melakukan sesuatu yang paradoks dengan sikap klien terhadap situasi yang dialami. Klien diajak mendekati dan mengejek sesuatu dan bukan menghindar. Teknik ini bertujuan lebih daripada perubahan pola tingkah laku. Teknik ini diarahkan pada penghapusan gejala melalui cara yang paradoks, yakni meminta kepada klien agar ia dengan sengaja menampilkan gejala yang dialaminya, tetapi melebih-lebihkan dan mengejek atau berhumor atau gejala itu. Landasan dari intensi paradoksikal adalah kesanggupan manusia untuk bersikap bebas dan mengambil jarak terhadap dirinya sendiri/ melampaui diri sendiri dan inilah yang dinamakan humor.

b. Derefleksi
Frankl ( Semiun, 2006 ) percaya bahwa sebagaian besar terhadap persoalan kejiwaan berasal dari perhatian yang terlalu fokus pada diri sendiri. Dengan mengalihkan perhatian diri sendiri dan mengarahkannya pada orang lain, persoalan itu akan hilang dengan sendirinya. Dengan teknik tersebut, klien diberi kemungkinan untuk mengabaikan neurosisnya dan memusatkan perhatian pada sesuatu yang terlepas dari dirinya.

c. Bimbingan Rohani
Metode khusus digunakan pada penanganan kasus individu berada pada penderitaan yang tidak dapat terhindarkan ataudalam suatu keadaan yang tidak dapat dirubah, dan tidak mampu berbuat apalagi selain menghadapi masalah yang dialami. Pada metode ini individu didorong untuk merealisasikan nilai bersikap dengan menunjukan sikap positif terhadap penderitaannyadalam rangka menemukan makna dibalik penderitaannya tersebut.


Ref :
  • Chaplin,  C., P. 1989. Kamus Lengkap PSIKOLOGI Ed. 1, Cet. 1. Diterjemahkan oleh : Kartini-Kartono. Jakarta : Rajawali
  • Naisaban, L. 2004. PARA PSIKOLOGI TERKEMUKA DUNIA ( Riwayat Hidup, Pokok Pikiran dan Karya ). Jakarta: Grasindo
  • Semiun, Y. 2006. Kesehatan Mental 3. Yogyakarta. Kanisius

Sabtu, 11 April 2015

TERAPI PSIKOANALISIS

Psikoanalisis merupakan aliran pertama dari ketiga aliran psikologi yang lain ( Behaviorisme, Humanistis, dan  Transpersonal ). Aliran yang di populerkan oleh Sigmund Freud meruapan salah satu teori kepribadian paling kondang 

Konsep Terapi Psikoanalisi :

1. Struktur Kepribadian 
  • Id
  • Ego 
  • Super Ego 
2. Pandangan Tentang Sifat Manusia :
  • Pesimitik
  • Determistic
  • Mekanistik
  • Reduksionitik
3. Kesadaran dan Ketidak sadaran 
  • Konsep ketaksadaran :
Ø mimpi2 → merupakan representative simbolik dari kebutuhan2, hasrat2  konflik
Ø salah ucap / lupa → thd nama yg dikenal
Ø sugesti pascahipnotik
Ø bahan2 yg berasal dari teknik2 asosiasi bebas
Ø bahan2 yg berasal dari teknik proyekti

4.   Kecemasan : Freud ( Feist J. dan Feist G. J., 2010 ) menjelaskan bahwa kecemasan merupakan situasi afektif yang dirasa tidak menyenangkan yang diikuti oleh sensasi fisik yang memperingatkan seseorang akan bahaya yang akan mengancam. Perasaan yang tidak menyenangkan ini biasanya samar-samar dan sulit di pastikan. tetapi selalu terasa.
Terdapat 3 macam kecemasan :
  • Kecemasan Neurosis : Rasa cemasa akibat bahaya yang tidak diketahui. Perasaan itu sendiri berada pada ego, tetapi dari dorongan-dorongan id. Semasa kanak-kanak, perasaan marah sering kali diikuti oleh rasa takut terhadap hukuman dan rasa takut digeneralisasikan kedalam kecemasan neurosis tidak sadar.
  • Kecemasan Moral : Berbakar dari konflik antara ego dan superego. Membangun superego biasanya diusia 5 atau 6 tahun. Mengalami kecemasan yang tumbuh dari konflik antara kebutuhan realistis dan perintah superego. 
  • Kecemasan Realistis :  terkait erat dengan rasa takut. Kecemasaan ini di definiskan sebagai perasaan yang tidak menyenangkan dan tidak spesifik yang mencangkup kemungkinan bahaya itu sendiri. 
Unsur-unsur Terapi :

1. Tujuan terapi Psikoanalisis 
  • Memebntuk kembali struktur karakter individu dengan jalan membantu kesadaran yang tak disadari didalam diri klien
  • Fokus pada upaya pengalaman masa anak-anak.
2. Fungsi : Terapis membiarkan dirinya anonym, hanya berbagi sedikit perasaan dan pengalaman sehingga klien memproyeksikan dirinya kepada terapis

3. Peran Terapis : 
  • Membantu klien dalam mencapai kesadaran diri, kejujuran dalam melakukan hubungan personal dalam menangani kecemasaan secara realistis
  • Membangun hubungan personal dalam menangani kecemasan serta realistis
  • Membangun hubungan kerja dengan klien, banyak mendengarkan dan menafsirkan
  • Terapis memberikan perhatian khusus pada penolakan-penolakan klien
Teknik dasar Terapi Psikoanalisis

1.Asosiasi Bebas : Suatu metode pemanggilan kembali pengalaman masa lalu dan pelepasan emosi yang berkaitan dengan situasi traumatik di masa lalu.
2. Penafsiran : Suatu prosedur dalam menganalisis asosiasi bebas, mimpi, resistensi dan transeferensi
3. Analisis Mimpi : Suatu prosedur yang penting untuk menyikapi bahan yang tidak disadari dan memberikan kepada klien atas beberapa area masalah yang tidak terselesaikan.
4. Analisis dan Penafsiran Resistensi : untuk membantu klien agar menyadari alasan yang ada dibalik resistensi sehingga dia biasa menanganinya.
5. Analisis dan Penafsiran Transferensi : Teknik utama dalam psikoanalisis karena mendorong klien untuk menghidupkan kembali masa lalu dalam terapi.

Ref : 

  • Feist, J., dan Feist, G., J. 2010. Teori Kepribadian Edisi 7 Buku 1. Diterjemahi oleh : Handrianto. Jakarta: Salemba Humanika
  • Indiryawati.2010.TERAPI PSIKOANALISIS. http://indryawati.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/folder/0.2 ( Diakses pada tanggal : 04/12/15 )


Kamis, 09 April 2015

Personal Centered Therapy

Konsep  dari Personal Centered Therapy 

Roger ( Feist J dan Feist G. J., 2011 ) mengasumsikan bahwa suatu pergembangan terapeutik dapat terjadi beberapa kondisi dianggap perlu dan memadai. Pertama klien hrus bertemu dengan terapis yang kongruen yang juga memiliki empati dan penerimaan positif  tidak bersyarat untuk klien tersebut. Kemudian klien juga harus dapat melihat karakteristik tersebut dari terapis, Terakhir pertemuan anatra klien dan terapis ada durasi tertentu.

Signifikansi dari hipotesis Rogerian termasuk revolusioner. Dengan hampi semua psikoterapi, kondisi pertama dan ketiga pasti terjadi; klien akan terdorong oleh semacam tekanan untuk mencari pertolongan, serta hubunngan antara klien dan terapi akan berlangsung untuk beberapa periode waktu. Terapi yang berpusat pada klien menjadi unik dalam penekannnya atas kondisi kongruensi, penerimaan positif tidak bersyarat dan mendengar secara empati dari konselor yang dianggap perlu dan memadai ( Feist J dan Feist G. J., 2011 )

Walaupun ketiga kondisi tersebut perlu untuk pertumbuhna psikologi, Roger ( Feist J dan Feist G. J., 2011 ) meyakinkan bahwa kongruensi lebih mendasar daripada penerimaan positif tidak bersyarat dan mendengar secara empati. Kongruensi adalah kualitas umum yang dimiliki oleh terapis, sementara dua kondisi lainnya adalah perasaan dan sikap spesifik yang dapat diberikan terapis untuk klien secara individual.

Unsur-unsur dalam terapi 

a. Kongruensi Konselor 
 Kondisi pertama yang perlu dan memadai untuk perubahan secara terapeutik adalah terapis yang kongruen. Kongruensi terjadi apabila pengalaman organismik seseorang sejalan dengan kesadaran atas atau pengalaman tersebut, serat dengang kemampuan dan keinginan untuk secara terbuka mengekspresikan perasaan tersebut.Untuk menjadi kongruen adalah menjadi nyata dan jujur, dan menjadi apa adanya.

b. Penerimaan Positif Tidak Bersyarat
Penghargaan postif adalah kebutuhan untuk disukai, dihargai dan diterima oleh orang lain. Saat kebutuhan tersebut muncul tanpa adanya syarat atau kualifikasi, maka munculah penerimaan positif yang tidak bersyarat. Terapi mempunyai penerimaan postif yang tidak bersyarat saat mereka " mengalami sikap yang hangat, positif dan menerima kepada apa yang menjadi kliennya. Menerima dan menghargai klien tanpa batasan atau keraguan dan tanpa melihat perilaku yang timmbul pada klien. 

c. Mendengarkan secara Empati
Empati hadir saat terapis secara akurat dapat merasakan perasaan dari klien mereka dan dapat mengomunikasikan persepsi ini, supaya klien mengetahui bahwa orang lain telah memasuki dunia perasaan tanpa prasangka, proyeksi ataupun evaluasi. Roger ( Feist J dan Feist G. J., 2011 ), empati " berarti untuk sementara hidup dalam kehidupan orang lain, bergerak didalamnya dengan hati-hati tanpa menghakimi ". Empati mengimplikasikan bahwa seorang terapis melihat segala sesuatunya dari sudut pandang klien, dan klien merasa amanserta tidak terancam.

Proses 
apabila kondisi-kondisi yang kongruen, penerimaan positif yang tidak bersyarat, dan empati telah hadir, maka proses perubahan terapeutik akan berlangsung. Walaupun setiap orang yang mencari psikoterapi itu unik, Roger ( Feist J dan Feist G. J., 2011 ) yakni bahwa ada aturan tertentu yang menjadi karakteristik dari proses terapi.


  • Tahap dalam Perubahan Terapeutik 

Roger ( Feist J dan Feist G. J., 2011 ) membagi kontinum menjadi tujuh tahapan :

Tahap 1 : ketidak mauan untuk mengkomunikasikan apa pun tentang diri. Pada tahap ini manusia tidak mencari pertolongan, tetapi apa bila mereka datang untuk terapi, karena alasan tertentu, mereka akan kaku dan menolak untuk berubah. Mereka tidak menyadari adanya masalah dan menolak untuk mengakui perasaan tersebut

Tahap 2 : Pada tahap ini klien mulai sedikit-sedikit tidak kaku. Mereka mendiskusikan peristiwa eksternal dan orang lain, tetapi tidak mengakui atau menyadari tentang perasaan mereka sendiri. Akan tetapik, mereka akan membicarakan perasaan personal mereka apabila perasaan tersebut merupakan fenomena objektif.

Tahap 3 : Pada tahap ini klien mulai lebih bebas dalam membicarakan diri mereka walaupun masih sebagain objek.  " Saya melakukan yang terbaik yang saya dapat lakukan saat berkerja, tetapi boss saya masih tetap tidak menyukai saya " Klien menceritakan perasaan, emosi yang dialami dan terjadi pada masa lalu dan masa depan,serta menghindari yang sedang dialami sekarang.

Tahap 4 : Klien mulai berbicara mengenai perasaan mendalam, tetapi bukan yang sedang dirasakan saat itu, " Saya merasa sangat marah ketika guru saya menuduh saya melakukan kecurangan ". Walaupun mereka mempunyai sedikit kesadaran bahwa mereka mempunayi kemampuan untuk merasakan emosi yang sedang dialami

Tahap 5 : tahap dimana klien mulai dapat mengekspresikan perasaan yang sedang mereka alami walaupun belum secara akurat melakukan simbolisasi dari perasaan-perasaan tersebut. Mereka mulai bertumbu pada locus evaluasi internal dari perasaan mereka dan mulai menemukan penemuan baru dan inovatif mengenai diri mereka.

Tahap 6 : Merupakan tahap terakhir dari sebuah terapi. walaupun terapi dihentikan, tetapi klien masih dapat melanjutkan sendiri ketahap berikutnya

Tahap 7 : Dapat terjadi diluar pertemuan terapi, karena pertemuan ditahap 6 merupakan proses yang tidak dapat diputar-baliik. Klien yang mencapai tahap 7 telah menjadi "manusia masa depan" yang berfungsi sepenuhnya , dan mampu menggeneralisaiskan kepercayaan diri untuk menjadi diri mereka sendiri disaat apapun. 

Ref :
Feist, J., dan Feist, G., J,. 2011. TEORI KEPRIBADIAN EDISI 7 BUKU . diterjemahkan oleh Sjahputri, S., P. Jakarta : Salemba Humanika